Di Desa Sungai Bangkal, Kabupaten Banjar, keberadaan air menghadirkan kondisi paradoksal. Di satu sisi, desa ini dikelilingi oleh aliran sungai yang secara historis menjadi sumber utama kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, pada musim hujan kualitas air sungai mengalami penurunan signifikan, ditandai dengan warna keruh kecokelatan akibat tingginya endapan lumpur serta potensi pencemaran dari limbah domestik.
Meskipun kualitas air tidak memenuhi standar kelayakan, selama bertahun-tahun masyarakat tetap memanfaatkan air sungai tersebut untuk berbagai kebutuhan dasar, termasuk mandi, mencuci, memasak, hingga keperluan balita. Ketergantungan ini terutama disebabkan oleh ketiadaan sumber air alternatif yang dapat diakses oleh warga. Kondisi tersebut diperparah saat banjir, ketika tingkat kekeruhan air meningkat secara drastis.
Menanggapi permasalahan tersebut, hadir sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan warga terhadap air sungai yang tidak layak konsumsi. Program bertajuk “Inovasi Green Farming Berbasis Ultrafiltrasi Air Bersih dan Hidroponik di Daerah Rawan Banjir Desa Sungai Bangkal Kabupaten Banjar” ini dilaksanakan oleh mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan melalui skema Program Mahasiswa Berdampak.
Melalui program tersebut, mahasiswa memperkenalkan teknologi ultrafiltrasi sebagai solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat. Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Program Mahasiswa Berdampak, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, berdasarkan Kontrak Nomor 441/C3/DT.05.00/PM-BEM/2025 Tahun Anggaran 2025.
Teknologi yang diterapkan berupa sistem ultrafiltrasi dead-end berbahan stainless steel, yang mampu menyaring bakteri, partikel lumpur, serta padatan mikro hingga ukuran 0,01 mikron. Alat ini ditempatkan di lokasi yang selama ini menjadi titik pengambilan air sungai oleh warga. Implementasi teknologi tersebut menunjukkan hasil yang signifikan, ditandai dengan perubahan visual air dari keruh menjadi jernih dalam waktu singkat.
Air bersih hasil proses ultrafiltrasi tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, seperti memasak, konsumsi (setelah perebusan), dan keperluan bayi, tetapi juga digunakan untuk mendukung sistem pertanian hidroponik vertikal. Inovasi ini menjadi solusi alternatif bagi keterbatasan lahan pertanian yang kerap terendam banjir di Desa Sungai Bangkal.
Sistem hidroponik vertikal memungkinkan masyarakat membudidayakan berbagai jenis sayuran, seperti selada, cabai, seledri, dan pakcoy, bahkan pada lahan sempit di sekitar rumah. Penggunaan air hasil ultrafiltrasi sebagai media nutrisi hidroponik menciptakan keterpaduan antara penyediaan air bersih dan ketahanan pangan skala rumah tangga yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Ketua pelaksana kegiatan pengabdian menjelaskan bahwa teknologi ultrafiltrasi dipilih karena kesesuaiannya dengan kondisi geografis dan sosial desa, yang tidak memiliki sumber air alternatif. Sistem ini dinilai efektif karena dapat dioperasikan tanpa kebutuhan listrik besar serta tanpa penggunaan bahan kimia. Modul ultrafiltrasi dead-end yang digunakan merupakan teknologi berpaten milik Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat dengan Nomor Permohonan P00202104922.
Selain dampak teknis, program ini juga mendorong perubahan sosial di tengah masyarakat. Warga tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan sistem hidroponik dan pemeliharaan alat ultrafiltrasi. Keterlibatan kelompok tani, kader posyandu, serta ibu rumah tangga memperkuat dimensi pemberdayaan masyarakat dalam program ini.
Pemanfaatan air bersih hasil ultrafiltrasi di posyandu turut meningkatkan aspek higienitas layanan kesehatan dasar. Di sisi lain, muncul inisiatif ekonomi lokal berupa pemanenan sayuran hidroponik untuk konsumsi harian dan rintisan pemasaran dengan label sayuran sehat khas Sungai Bangkal, sebagai langkah awal peningkatan mata pencaharian warga.
Secara keseluruhan, program ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi yang sederhana, kontekstual, dan berbasis kebutuhan riil masyarakat mampu menghasilkan dampak yang signifikan. Meskipun program masih berkelanjutan, manfaat awal telah dirasakan berupa peningkatan akses air bersih, penurunan risiko penyakit akibat air tercemar, penguatan ketahanan pangan rumah tangga, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan teknologi tepat guna.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui skema pendanaan Program PM-BEM Tahun 2025.